
Bojonegoro, 7 Oktober 2026 — Belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Lingkungan, budaya, sejarah, seni, dan kehidupan sehari-hari dapat menjadi sumber belajar yang memberikan pengalaman bermakna bagi siswa. Hal tersebut diwujudkan oleh SD IT Insan Permata Bojonegoro melalui kegiatan Integral Learning kelas 5 dengan tema “Belajar dari Lingkungan, Budaya, dan Kehidupan.”
Kegiatan yang diikuti oleh 68 siswa kelas 5 ini dilaksanakan di beberapa lokasi, yaitu LPKM Zahida, Museum Rajekwesi, dan Alun-Alun Bojonegoro. Berbagai aktivitas dirancang untuk memadukan pembelajaran seni, keterampilan hidup, sejarah, budaya, observasi, kerja sama, permainan edukatif, serta pembiasaan ibadah.
Mengawali Kegiatan dengan Pembiasaan Ibadah
Rangkaian kegiatan diawali di lingkungan sekolah dengan salat Dhuha bersama. Pembiasaan ini menjadi bagian penting karena kegiatan pembelajaran tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai keislaman.
Setelah itu, siswa mendapatkan pengarahan dari Kepala Sekolah mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, adab, serta pentingnya menjaga nama baik sekolah selama mengikuti kegiatan di luar lingkungan sekolah.
Belajar Seni dan Keterampilan di LPKM Zahida

Pembelajaran kemudian dilanjutkan ke LPKM Zahida. Di tempat ini, siswa mendapatkan pengenalan mengenai seni mewarnai dan langsung mempraktikkannya dengan membuat karya berupa tas menggunakan sketsa yang telah disiapkan.
Melalui kegiatan tersebut, siswa belajar mengembangkan kreativitas sekaligus melatih ketelitian, kesabaran, fokus, dan tanggung jawab. Mereka belajar bahwa menghasilkan sebuah karya membutuhkan proses, mulai dari memahami instruksi, memilih warna, mengerjakan dengan teliti, hingga menyelesaikannya dengan baik.
Kegiatan ini juga menjadi sarana mengenalkan keterampilan hidup atau practical life. Siswa belajar untuk lebih mandiri, percaya diri, dan mampu menyelesaikan tugas yang diberikan.
Mengenal Sejarah dan Budaya di Museum Rajekwesi
Setelah kegiatan di LPKM Zahida selesai, siswa melanjutkan pembelajaran ke Museum Rajekwesi. Di sini, siswa diajak mengenal berbagai koleksi serta memahami sejarah dan budaya yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.

Dengan pendampingan pemandu museum, siswa melakukan observasi terhadap berbagai objek, mencatat informasi yang diperoleh, serta mengajukan pertanyaan. Aktivitas tersebut mendorong siswa untuk menjadi pembelajar aktif yang berani mengamati, bertanya, dan mencari informasi secara langsung.
Siswa juga diajak membandingkan kehidupan masyarakat pada masa lalu dengan kehidupan masa kini. Dari kegiatan tersebut, mereka belajar bahwa perkembangan zaman membawa berbagai kemudahan, tetapi nilai-nilai seperti kerja keras, kesederhanaan, gotong royong, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan tetap penting untuk diterapkan.
Mengenal sejarah dan budaya juga diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta dan kepedulian siswa terhadap warisan budaya yang ada di lingkungan mereka.
Setelah mengikuti pembelajaran di museum, kegiatan dilanjutkan dengan game estafet kardus di Alun-Alun Bojonegoro. Permainan ini menjadi sarana bagi siswa untuk belajar dalam suasana yang menyenangkan sekaligus menguatkan karakter.
Melalui permainan, siswa belajar tentang kerja sama, komunikasi, kekompakan, sportivitas, dan tanggung jawab. Setiap anggota kelompok memiliki peran yang saling berkaitan sehingga keberhasilan tidak hanya bergantung pada satu orang.
Kegiatan ini memberikan pengalaman nyata bahwa banyak hal dalam kehidupan dapat diselesaikan dengan lebih baik melalui kerja sama dan saling membantu.
Ditutup dengan Salat Dhuhur Berjamaah
Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, siswa bersama guru pendamping kembali ke sekolah. Kegiatan kemudian ditutup dengan salat Dhuhur berjamaah di masjid sekolah, dilanjutkan dengan makan dan persiapan untuk dijemput oleh orang tua.
Pembiasaan ibadah yang dilakukan sejak awal hingga akhir kegiatan menjadi bagian yang menguatkan karakter spiritual siswa dalam keseluruhan proses Integral Learning.
Pembelajaran yang Terhubung dengan Kehidupan
Integral Learning kelas 5 memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman nyata. Di LPKM Zahida, siswa belajar seni, kreativitas, dan keterampilan hidup. Di Museum Rajekwesi, mereka belajar sejarah, budaya, observasi, dan perubahan kehidupan dari masa ke masa. Sementara melalui permainan estafet, mereka belajar kerja sama, komunikasi, dan sportivitas.
Berbagai pengalaman tersebut menjadi pembelajaran yang utuh karena siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan dan sikap.
Melalui kegiatan ini, SD IT Insan Permata Bojonegoro berupaya menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna. Siswa diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang kreatif, mandiri, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, mencintai budaya, serta peduli terhadap lingkungan.
Dengan tema “Belajar dari Lingkungan, Budaya, dan Kehidupan,” kegiatan Integral Learning ini diharapkan menjadi pengalaman berharga bagi siswa. Setiap tempat yang dikunjungi, setiap aktivitas yang dilakukan, dan setiap orang yang ditemui dapat menjadi sumber pembelajaran dan hikmah untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, kreatif, dan mampu mengambil pelajaran dari kehidupan.




