Parenting Akbar “Merapikan Surga di Rumah Kita”
Menemukan Kembali Baiti Jannati di Tengah Riuh Digital
Sabtu, 12 September 2026 — SD IT Insan Permata Bojonegoro menyelenggarakan kegiatan Parenting Akbar dengan mengusung tema “Menemukan Kembali Baiti Jannati di Tengah Riuh Digital”. Bertajuk “Merapikan Surga di Rumah Kita”, kegiatan yang berlangsung di STIKES Rajekwesi Bojonegoro ini menjadi momentum bagi sekolah dan orang tua untuk bersama-sama merefleksikan kembali peran keluarga dalam menciptakan rumah yang nyaman, hangat, dan penuh nilai kebaikan bagi anak.

Sejak pagi, para panitia telah melakukan persiapan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik. Kegiatan kemudian diawali dengan registrasi peserta yang disertai pemutaran slide video. Suasana semakin meriah dengan rangkaian praacara berupa penampilan siswa, di antaranya Tari Saman yang dibawakan oleh 14 ananda

serta penampilan dua ananda yang menyanyikan lagu Hafidz Qur’an dan Melukis Senja.

Memasuki acara inti, kegiatan dibuka oleh Ustadz Rizal dan dilanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an oleh Club Quran. Seluruh peserta kemudian bersama-sama menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Mars JSIT, dan Mars SIT, yang dipimpin oleh dirigen Ustadzah Silvi.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Komite Lila Dwi Rahmawati, S.Pt., Kepala Sekolah Nanin Meipuspa Ranie, S.Pd., serta Ketua Yayasan Lukman Rovi, S.T. Ketiga sambutan tersebut menjadi bagian penting dalam menguatkan sinergi antara sekolah, keluarga, dan yayasan dalam mendampingi tumbuh kembang serta pendidikan anak.
Setelah rangkaian sambutan, acara memasuki sesi utama yang menghadirkan Coach Feri D. Sampurno, S.AP., M.M. sebagai pemateri. Setelah pembacaan curriculum vitae oleh moderator, Coach Feri menyampaikan materi parenting yang mengajak para orang tua untuk kembali melihat keluarga sebagai fondasi utama dalam kehidupan anak.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital, anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan gawai, internet, media sosial, dan berbagai konten digital. Teknologi memberikan banyak manfaat, tetapi pada saat yang sama menghadirkan tantangan yang membutuhkan pendampingan, komunikasi, dan keteladanan dari orang tua.
Dalam pemaparannya, Coach Feri menekankan betapa besarnya arti keluarga dalam kehidupan seorang anak.
“Keluarga bukan sekadar sesuatu yang penting, but it’s everything. Keluarga itu segalanya.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keluarga bukan sekadar tempat anak pulang, melainkan tempat pertama anak belajar tentang cinta, nilai, adab, tanggung jawab, dan bagaimana memandang dirinya sendiri.
Coach Feri juga mengingatkan para orang tua agar senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan sikap, terutama ketika anak-anak masih berada pada usia kecil.
“Hati-hati dalam berucap dan bersikap saat anak-anakmu masih usia kecil, karena hal itu sangat memengaruhi masa depan mereka.”
Setiap kata dan perlakuan orang tua dapat meninggalkan jejak dalam diri anak. Karena itu, masa kecil perlu diisi dengan pengalaman yang membangun rasa aman, percaya diri, dan keyakinan bahwa dirinya dicintai serta dihargai.
Salah satu pesan yang juga ditekankan dalam sesi parenting tersebut adalah pentingnya memenuhi tangki cinta anak.
“Penuhi tangki cinta anakmu.”
Anak membutuhkan lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan fisik. Mereka membutuhkan kehadiran orang tua, perhatian, apresiasi, pelukan, komunikasi, waktu bersama, dan rasa aman. Ketika tangki cinta anak terpenuhi, rumah dapat menjadi tempat yang nyaman bagi anak untuk bertumbuh, bercerita, bertanya, dan belajar dari berbagai pengalaman.
Interaksi dan Refleksi Bersama Orang Tua
Setelah penyampaian materi, suasana kegiatan semakin hidup melalui sesi tanya jawab interaktif. Para orang tua mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan sekaligus berbagi berbagai pengalaman dan tantangan dalam mendampingi anak di tengah kehidupan yang semakin lekat dengan dunia digital.
Sesi interaktif tersebut menjadi ruang bagi orang tua untuk tidak hanya menerima materi, tetapi juga melakukan refleksi terhadap pola komunikasi dan hubungan yang selama ini dibangun bersama anak.
Lebih dari sekadar kegiatan penyampaian materi, Parenting Akbar menjadi ruang untuk memperkuat sinergi antara sekolah dan keluarga. Pendidikan anak tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Rumah merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama, tempat anak belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, adab, kedisiplinan, serta bagaimana memperlakukan orang lain.
Melalui tema “Menemukan Kembali Baiti Jannati di Tengah Riuh Digital”, orang tua diajak untuk kembali melihat rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat anak menemukan rasa aman dan nyaman. Rumah diharapkan menjadi tempat anak dapat bercerita, bertanya, belajar dari kesalahan, mendapatkan nasihat, dan merasakan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya.
Membangun baiti jannati juga bukan hanya tentang menciptakan rumah yang rapi dan nyaman secara fisik. Lebih dari itu, dibutuhkan upaya untuk merapikan komunikasi, merawat hubungan, menjaga kebersamaan, serta menghadirkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah riuhnya dunia digital, kedekatan antara orang tua dan anak menjadi semakin penting. Pendampingan terhadap penggunaan teknologi tidak cukup hanya dengan memberikan aturan dan batasan. Anak juga membutuhkan komunikasi yang terbuka agar memiliki tempat untuk bercerita dan bertanya ketika menemukan berbagai hal di dunia digital.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembagian doorprize yang menambah semarak suasana. Rangkaian Parenting Akbar ditutup dengan pembacaan doa oleh Ustadz Sugiarto dan penutup oleh MC.
Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah agenda sekolah, tetapi menjadi pengingat bagi seluruh orang tua bahwa membangun keluarga yang baik merupakan proses yang dilakukan setiap hari. Sekolah dan orang tua perlu berjalan bersama, saling mendukung, dan memiliki visi yang sama dalam mendampingi anak agar tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, mandiri, beradab, serta memiliki bekal nilai-nilai keislaman yang kuat.
Pada akhirnya, baiti jannati bukan sekadar ungkapan, tetapi sebuah ikhtiar yang dirawat bersama. Merapikan rumah, merapikan hati, merapikan komunikasi, dan merapikan hubungan, agar rumah benar-benar menjadi tempat terbaik bagi anak untuk tumbuh, belajar, dan menemukan cinta.
Sebab, ketika dunia di luar semakin riuh, semoga rumah tetap menjadi tempat paling tenang untuk pulang.